Pages

Berita Sepak Bola : Memasyarakatkan Olahraga di Bulan Ramadan

Berita Sepak Bola : Memasyarakatkan Olahraga di Bulan Ramadan

sumber berita Memasyarakatkan Olahraga di Bulan Ramadan : http://sport.detik.com/sepakbola/read/2015/06/26/141047/2953268/1497/memasyarakatkan-olahraga-di-bulan-ramadan
Olahraga sudah mjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. olahraga kini bukan hanya sarana untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani, tapi sudah semakin berkembang menjadi saran komunikasi, sosialisasi, bisnis, dan lain sebagainya.

Khusus di bulan Ramadan, dampak puasa akan langsung terasa karena mempengaruhi rasa lapar dan haus, serta mempengaruhi jam tidur karena umumnya kita dituntut untuk bangun menjelang subuh untuk melaksanakan sahur. Kebiasaan berolahraga pun bisa terpengaruh.

Namun, jika kita melihat dalam beberapa literatur ilmiah mengenai dampak Ramadan pada kinerja olahraga, banyak yang menyajikan hasil yang bervariasi, bahkan tak jarang yang bertentangan dengan pandangan umum bahwa puasa Ramadan akan menurunkan performa kita dalam berolahraga.

Buat kita yang bukan merupakan atlet profesional, puasa Ramadan mungkin tidak akan berdampak terlalu besar. Tapi lain halnya bagi mereka yang merupakan olahragawan profesional.

Hasil studi mengenai dampak puasa

Kurangnya asupan cairan dan makanan, ditambah juga dengan berkurangnya jam tidur, akan berdampak pada performa serta kelelahan. Sejalan dengan itu, beberapa studi menyebutkan bahwa puasa Ramadan berkontribusi pada penurunan kapasitas aerobik, ketahanan, dan kemampuan untuk melakukan latihan pada 75% dari maksimal VO2 max.

Pada atlet sepakbola, ada juga studi yang dilaporkan beberapa penurunan dalam komponen umum kebugaran (kecepatan, kelincahan, dan daya tahan) dan uji keterampilan individual (seperti dribel) pada saat berpuasa.

Namun, salah satu penelitian berjudul “The influence of Ramadan on physical performance measures in young Muslim footballers” (Donald Kirkendall dkk) menunjukkan bahwa tidak ada dampak yang jelas dalam kecepatan, kekuatan, kelincahan, daya tahan, dan keterampilan individual pada saat puasa Ramadan.

Pada penelitian lain juga ada yang menunjukkan bahwa puasa Ramadan tidak menghasilkan dampak buruk pada komposisi tubuh, kekuatan anaerobik, kapasitas anaerobik, dan metabolisme asam laktat (indikator kelelahan, biasanya berupa rasa pegal) selama dan setelah latihan intensitas tinggi jika tidak ada perubahan total asupan kalori harian (makanan dan cairan), dan tidak ada perubahan total jam tidur, atau jika semuanya dipertahankan seperti sebelum Ramadan.

Selama puasa Ramadan, periodisasi yang tepat dari pelatihan ini penting untuk menjaga dan mengoptimalkan kinerja atlet. Penyesuaian pelatihan dapat memiliki dampak luar biasa pada kinerja.
Nuhun for visit Memasyarakatkan Olahraga di Bulan Ramadan