Pages

Berita Sepak Bola : Bagaimana Akuntansi Mengklasifikasi dan Menghitung Pemain Sepakbola sebagai Aset?

Berita Sepak Bola : Bagaimana Akuntansi Mengklasifikasi dan Menghitung Pemain Sepakbola sebagai Aset?

sumber berita Bagaimana Akuntansi Mengklasifikasi dan Menghitung Pemain Sepakbola sebagai Aset? : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/487fab12/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C280C1652340C29772540C14970Cbagaimana0Eakuntansi0Emengklasifikasi0Edan0Emenghitung0Epemain0Esepakbola0Esebagai0Easet/story01.htm
Di zaman modern seperti ini, orang-orang yang ada di dalam klub adalah orang-orang yang sadar akan nilai lebih sepakbola sebagai industri. Mereka sadar kalau setiap klub sepakbola (profesional) punya nilai jual.

Apapun harus dilakukan untuk menjaga bahkan meningkatkan nilai tersebut. Target juara di setiap kompetisi pada akhirnya tidak hanya berbicara soal penambahan trofi dan gelar. Menjadi juara berarti berhasil meningkatkan nama besar klub, menarik sponsor, meningkatkan nilai hak siar dan menerima penghasilan tambahan berupa uang hadiah.

Kesadaran akan kebutuhan berprestasi itulah yang mendorong setiap klub membentuk tim yang hebat dengan memiliki pemain-pemain dengan kualitas yang tak sembarangan. Semakin hebat pemain yang dimiliki, maka semakin besar pula kemungkinan menjadi juara di sejumlah kompetisi.

Sepakbola menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya bergelimang nama besar. Rasanya ada begitu banyak orang yang mengetahui siapa David Beckham, Cristiano Ronaldo ataupun Lionel Messi, walaupun tak ada jaminan kalau orang-orang tersebut memang mengikuti perkembangan sepakbola. Makanya, wajar jika sejumlah perusahaan kenamaan berebut untuk menjadi sponsor bagi klub-klub besar. Dengan menjadi sponsor, perusahaan bisa berharap ada banyak orang yang menyaksikan logo mereka terpampang di seragam pemain dan tentu saja berujung pada meningkatnya penjualan produk perusahaan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan kalau pemain sepakbola adalah aset yang paling berharga bagi klub, sehingga sudah seharusnya neraca menyediakan akun yang menerangkan keberadaan pesepakbola sebagai aset. Yang menjadi permasalahan adalah bahwa pengakuan human capital sebagai aset masih menimbulkan perdebatan sampai saat ini.



Menurut Financial Accounting Standards Boards (FSAB), aktiva adalah manfaat ekonomis masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau dikuasai bahkan dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu. Menurut The International Accounting Standard (IASC), aset dapat diartikan sebagai sumber daya yang dikuasai oleh suatu perusahaan sebagai hasil dari kejadian masa lalu dan dari mana keuntungan masa depan yang diharapkan berasal untuk jalannya suatu perusahaan.

Sementara jika mengacu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), aset tak berwujud adalah aktiva nonmoneter yang bisa diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik secara nyata serta dimiliki guna menghasilkan maupun menyerahkan barang dan jasa, disewakan ataupun hanya bertujuan administrasi.

Dalam praktiknya, PSAK memberikan kriteria tersendiri terkait pengakuan aktiva tak berwujud, yaitu: 1) Aktiva tersebut dapat diidentifikasi. Implikasinya, aktiva tersebut memiliki manfaat ekonomis yang dapat dijual, disewakan atau dipertukarkan secara terpisah. 2) Perusahaan memiliki kendali atas aktiva tersebut 3) Di masa mendatang, perusahaan akan memperoleh manfaat atas kepemilikan aktiva tersebut 4) Harga perolehan aktiva tak berwujud dapat dihitung secara andal.

Walaupun pada awalnya PSAK sebagai pedoman dalam melalukan praktik akuntansi di Indonesia masih belum bisa memantapkan pengakuan human capital, namun beruntung karena sejak tahun 2012 penerapan PSAK di Indonesia mulai berkiblat pada penerapan International Financial Accounting Standards (IFRS). IFRS sebagai standar akuntansi yang dikelarkan oleh International Accounting Standard Board memang memberikan perhatian terhadap pengakuan human capital sebagai aset.
Nuhun for visit Bagaimana Akuntansi Mengklasifikasi dan Menghitung Pemain Sepakbola sebagai Aset?