Pages

Berita Sepak Bola : Gol Bunuh Diri, Antara Yukio Mishima dan Laura Bassett

Berita Sepak Bola : Gol Bunuh Diri, Antara Yukio Mishima dan Laura Bassett

sumber berita Gol Bunuh Diri, Antara Yukio Mishima dan Laura Bassett : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/47d7a5da/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C0A50C1439120C2960A6930C14970Cgol0Ebunuh0Ediri0Eantara0Eyukio0Emishima0Edan0Elaura0Ebassett/story01.htm
Dalam esainya yang berjudul The Sea of Crises, Brian Phillips menerangkan Jepang sebagai negara yang secara historis merayakan bunuh diri dan meyakini kalau mereka yang mati bunuh diri jauh lebih terhormat dibandingkan mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan yang tak sejalan dengan tradisi dan moral Jepang.

Bunuh diri, dalam tradisi dan moral Jepang, merupakan metode terhormat untuk mengungkapkan pernyataan sikap: pertanggungjawaban terhadap kegagalan hingga aib yang tak tertanggungkan.

Berbicara tentang Jepang dan fenomena bunuh dirinya, saya masih sepakat untuk menjadikan novelet Patriotism karya Yukio Mishima sebagai karya tergila yang pernah saya baca. Ia menjadi gila bukan hanya karena menuturkan ritual seppuku secara mendetail, tapi karena berhasil mengalihkan hasrat primitif seppuku kepada tingkah laku yang dapat dilihat masyarakat.

Mishima yang bernama asli Kimitake Hiraoka itu mati bunuh diri. Bunuh dirinya begitu dramatis, ia memilih mati dengan menghidupkan kembali ritual seppuku. Serupa dengan yang ia tuliskan dalam Patriotism tadi (Sapardi Djoko Damono pernah menerjemahkan Patriotism dan tayang dalam salah satu edisi majalah Horison).

Waktu itu tanggal 25 November 1970, Mishima mengenakan semacam seragam militer Jepang. Ia membawa pedang pendek, semacam katana, dan beberapa selebaran yang saya tak paham isinya apa serta bagian akhir The Sea of Fertility, naskah novel terakhir yang baru saja dirampungkannya. Konon, ia juga meminta sejumlah wartawan untuk datang dan meliput apa yang hendak ia kerjakan. Sebagai catatan, tak ada satu wartawan pun yang paham perihal apa yang akan ia lakukan sebentar lagi. Barangkali mereka berpikir, waktu itu Mishima akan berbicara seputar bagian akhir tetralogi novel yang baru saja ia selesaikan.

Mishima dan rombongan melaju ke markas besar pasukan beladiri Jepang. Ia datang bersama komandan Tatenokai Masakatsu Morita dan 3 orang anggotanya: Chibi Koga, Hiroyashu Koga dan Ogawa. Di sana, mereka bertemu dengan Jenderal Mashita si komandan besar. Beberapa saat setelah berbasa-basi, keempat anak buah Mishima dengan begitu cekatannya menyandera si Jenderal besar.

Siapa yang menyangka, kalau markas pasukan beladiri Jepang yang begitu termahsyur itu menjadi kacau-balau dalam sekejap akibat ulah seorang penulis gila bernama pena Yukio Mishima?

Ya, beberapa orang memang menyebut Mishima tak lebih dari seorang gila, bahkan ada yang menyebutnya fasis sinting. Tapi ketika peristiwa ini terjadi, Mishima adalah sastrawan sangat masyhur dengan karya-karya yang memukau. Ia bahkan di tahun tersebut sudah disebut-sebut sebagai salah satu kandidat pemenang Nobel Sastra.



Menjelang tengah hari Mishima dan Ogawa muncul di balkon untuk berpidato. Dalam pidatonya tersebut Mishima menegaskan kalau apa yang dilakukannya ini semata-mata untuk mengembalikan Jepang ke bentuk murninya. Ia bilang akan menunjukkan sesuatu yang bernilai jauh lebih tinggi daripada kehidupan. Ia mau mengembalikan kebanggaan Jepang, ia mau Jepang bersorak karena tetap menghidupi tradisinya.
Nuhun for visit Gol Bunuh Diri, Antara Yukio Mishima dan Laura Bassett