Pages

Berita Sepak Bola : Menimbang Kompetisi Tingkat Ketiga di Eropa

Berita Sepak Bola : Menimbang Kompetisi Tingkat Ketiga di Eropa

sumber berita Menimbang Kompetisi Tingkat Ketiga di Eropa : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4875f970/sc/13/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C270C1410A260C29760A410C14970Cmenimbang0Ekompetisi0Etingkat0Eketiga0Edi0Eeropa/story01.htm
Europa League sejatinya hadir sebagai kompetisi yang mewadahi kesebelasan yang tak mampu bersaing dengan “Para Juara” di Liga Champions. Singkatnya, Europa League adalah kompetisi kelas dua yang mempertemukan para juara kompetisi yang secara de facto belum bisa dibilang sebagai “Juara Eropa”.

Konfederasi sepakbola Eropa, UEFA, terus mengupayakan agar negara-negara yang kompetisinya dianggap terpinggirkan bisa mencicipi Liga Champions. Lewat presidennya, Michel Platini, UEFA ingin agar jurang kesenjangan klub-klub pengikut kompetisi top Eropa -- diukur lewat rangking koefisien-- dengan tim-tim kompetisi Eropa yang lain tidak lagi menganga begitu lebar. UEFA memperkenalkan sejumlah aturan yang pada dasarnya untuk menunjang agar kesebelasan kecil pun bisa berprestasi, atau setidaknya berpartisipasi.

Dengan disparitas yang begitu besar, baik secara kualitas teknik maupun finansial, Platini menyodorkan sejumlah perubahan seperti aturan jumlah pemain home-grown dalam satu kesebelasan yang bertanding, pengaturan gaji dan pengeluaran, hingga jumlah kesebelasan yang berlaga di Liga Champions.

Satu terobosan yang sudah mulai diterapkan adalah aturan financial fair play (FFP) yang membuat Paris Saint-Germain dan Manchester City terhambat dalam aktivitas transfer. Selain itu, Platini pun membuat juara dari kompetisi kecil seperti Liga Slovenia, berpeluang untuk masuk ke babak utama Liga Champions. Ini merupakan bagian dari keinginan Platini yang awalnya ingin mengurangi jumlah maksimal kesebelasan dari sebuah kompetisi, dari empat menjadi tiga.

“Sebagai bagian dari ini, mari kita perkenalkan batas jumlah maksimal tiga kesebelasan dari tiap negara, untuk memungkinkan lebih banyak negara untuk ambil bagian,” ujar Platini seperti dikutip The Guardian pada 2006 silam.

Platini sudah menjabat hampir satu dekade. Lalu apakah keinginannya tersebut sudah tercapai? Atau malah membuat kondisi kian memburuk?

Panjangnya Perjalanan Menuju Liga Champions

Dari 54 negara anggota UEFA, 53 di antaranya tercatat sebagai peserta Liga Champions. Tentu, sebagian di antaranya mesti melewati babak kualifikasi terlebih dahulu. Pada Liga Champions musim 2015/2016 ini hanya 15 negara yang mendapat jatah dua wakil atau lebih, baik di babak utama maupun babak kualifikasi. Sementara itu, negara dengan peringkat koefisien ke-16 hingga ke-53 hanya memiliki satu wakil. Itu pun beberapa dari mereka harus melewati tahapan panjang babak kualifikasi.

Terdapat empat fase untuk mencapai babak utama Liga Champions. UEFA menyebutnya sebagai “tiga babak kualifikasi” dan “satu kali babak play-off”. Tentu saja, juara Liga Estonia, Levadia Tallinn, mesti mengawali perjalanannya dari babak pertama, karena Liga Estonia hanya menempati peringkat koefisien ke-50 .

Jika berhasil, mereka harus melewati hadangan kesebelasan dari juara kompetisi yang lebih kuat seperti juara Liga Rumania, Steaua Bucuresti, juara Liga Skotlandia, Celtic, hingga juara Liga Bulgaria yang mengejutkan pada musim lalu, Ludogorets Razgard.
Nuhun for visit Menimbang Kompetisi Tingkat Ketiga di Eropa