Pages

Berita Sepak Bola : Makin Tertekan, Pep?

Berita Sepak Bola : Makin Tertekan, Pep?

sumber berita Makin Tertekan, Pep? : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/48b7f845/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A80C0A50C1438340C29840A170C740Cmakin0Etertekan0Epep/story01.htm
Munich - Musim pertama oke, musim kedua menurun. Memasuki musim ketiganya di Bayern Munich, ada gejala Pep Guardiola mulai menghadapi tekanan lebih tinggi, yang mungkin tak pernah ia rasakan di Barcelona.

Di musim 2013/2014 Guardiola berhasil memberi impresi tinggi buat Bayern. Bahkan pada jumpa pers pertamanya ia langsung berbicara dalam bahasa Jerman yang cukup baik. Lalu, ia pun memimpin timnya menjuarai Piala Super Eropa dengan mengalahkan Chelsea.

Di akhir musim pertamanya itu Guardiola memberi tiga trofi lagi: Bundesliga, Piala Liga, dan Piala Dunia Antarklub. Hanya Liga Champions yang lepas, setelah dihentikan Real Madrid di semifinal. Madrid-lah yang kemudian tampil sebagai juara.

Di musim berikutnya, alias di musim lalu, kritik demi kritik lebih diakrabi Guardiola. Ia tentu sadar, menjadi pelatih sekelas Bayern berarti akan penuh dengan tekanan. Kritik terbesarnya adalah ketika Bayern tak berkutik di leg pertama semifinal Liga Champions melawan Barcelona. Taktik Guardiola dianggap stagnan.

Maka ketika Die Roten kehilangan gelar Piala Liga, dan hanya memenangi Bundesliga, tekanan itu cenderung semakin besar. Banyak mantan pemain Bayern memberi penilaian buruk buat dia.

Di dressing room, Guardiola diserang agen Mario Goetze, yang merasa pemainnya tidak dioptimalkan sehingga performanya pun menurun.

Goetze pun lebih berani blak-blakan. Dia bilang, apa yang terjadi dengan dirinya disebabkan Guardiola bersikap tidak terbuka. [Baca: Goetze Tuntut Guardiola Berkomunikasi Lebih Baik]

Dulu, Zlatan Ibrahimovic pun "mendendam" pada Guardiola karena berbulan-bulan merasa didiamkan oleh pelatihnya itu, kala keduanya masih di Barcelona. "Sampai saat ini aku tidak pernah tahu, kenapa dia tidak pernah membicarakan masalahnya kepadaku," ungkap Ibrahimovic dalam buku otobiografinya.

Sialnya, menjelang musim baru pun Guardiola sudah kehilangan sebuah trofi. Dalam perebutan Piala Super Jerman akhir pekan lalu, timnya kalah adu penalti dari Wolfsburg. Pers setempat pun mulai terbiasa untuk menspekulasikan nasib pria Spanyol itu di Allianz Arena.

Di sisi lain, karakter Guardiola yang dikenal kalem selama di Barcelona, seperti mulai berubah pula. Akhir-akhir ini ia bersedia menghadapi "musuh-musuhnya" dengan bahasa yang "emosional". Contohnya, ia membalas kritikan Lothar Matthaeus dan Stefan Effenberg, yang menyebut Mourinho tetap lebih baik daripada dirinya. Kedua pemain legendaris itu juga memprediksi Guardiola takkan lama lagi menempati kursi pelatih Bayern.

"Anda (media) juga mengkritik saya. Anda melakukannya. Itu merupakan pekerjaan Anda. Saya melakukan tugas saya, dan Anda mengkritik saya dari hal itu. Jika legenda klub ini bekerja sebagai jurnalis, dia juga bisa melakukannya," ucap pelatih berusia 44 tahun itu.

"Pada momen ini, Effenberg dan Matthaeus adalah jurnalis. Dan tentu saja, mereka boleh mengemukakan pendapat mereka. Saya tak tahu apakah dia yang terbaik, tapi Jose Mourinho jelas salah satu yang terbaik di dunia," tambahnya dengan nada "berani".

Selasa (4/8/2015) kemarin, tahu-tahu beredar video dan berita bahwa Guardiola beradu mulut dengan pemain AC Milan, Nigel de Jong. Guardiola marah besar pada De Jong karena mencederai pemainnya, Joshua Kimmich. Dalam video tersebut, terlihat jelas emosi Guardiola.

Apakah itu menandakan bahwa Guardiola semakin merasakan tekanan di tempatnya saat ini? Hanya dia yang tahu. Yang jelas, sepertinya dia tak pernah mendapatkan tekanan sebesar itu selama menangani Barcelona. Maklum, Barcelona berutang banyak pada dirinya. Apalagi sebelum jadi pelatih pun Pep sudah menjadi legenda di Camp Nou.


Nuhun for visit Makin Tertekan, Pep?